Abstract School RPG

AS TELAH PINDAH KE http://yotsuba-indo.chocoforum.net !!!!
 
IndeksPortailGalleryFAQPencarianPendaftaranAnggotaGroupLogin

Share | 
 

 Song of the World

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Mishuto Dzuragunfuerudo
new student
new student
avatar

Male Jumlah posting : 1184
Age : 25
ability : Latent Ability
Class : A - Senior High School
Alice : Symphonic Alice
Registration date : 26.03.08

Char Sheet
Star Rank: Single Star
Location: Wandering
Self Quote: KORE WA MAPLE DESU~!!!

PostSubyek: Song of the World   Wed Mar 26, 2008 6:58 pm

Walaupun charanya masih nunggu approval… tapi lagi pingin nulis. Maka jadilah, hehehe…
Cerita ini terinspirasi dari sebuah lagu dengan judul diatas ^^.

_________________________________

“Hey… dasar sial.”

Kalimat itu masih bergema di kepala Shu.
Sebuah kalimat yang mengawali sebuah persahabatan yang menyenangkan.

Pagi itu, di Elementary School A, sebuah hari biasa bagi Shu. Sebuah bagian hari hari menyendiri di bangku kelasnya. Tanpa ada yang menyapa, tanpa ada yang mengajaknya bicara, Sebuah hari yang… sangat biasa.

Kertas notasi kosong. Hanya itu yang ada dalam pandangannya. Hari itu, ia tidak dapat memikirkan apa pun, tidak satu not nada pun yang dituliskan di kertas itu, seakan mesin imajiner di dalam otaknya sedang tidak berkerja.

“Mungkin hari ini bukan saat yang tepat untuk membuatnya…”, kata Shu, mengucapkannya seperti berkumur-kumur. “Betul betul bodoh, aku baru menggunakan Alice-ku kemarin...”

Dengan sebuah tarikan nafas panjang, Shu memasukkan kertas kertas itu kedalam tasnya.

“Ah…”

Dia menyadari sesuatu.

Partitur partitur di dalam tasnya telah hilang.

Dia berbisik dalam hati, prasangka buruknya mulai muncul.

‘Pasti perkerjaan orang orang brengsek kelas ini. Benar benar bodoh, walau pun mereka mengambil partitur partitur itu, tidak berarti musik itu akan hilang, tidakkah mereka mengenal kata komputer? Tentu saja partitur partitur itu langsung kubuat ulang disana. Kalaupun aku memang lupa memasukannya, aku bisa membuat sesuatu yang lebih indah--- dalam waktu seminggu.’

Dalam arti lain, ia mencoba untuk menghindari sebuah amarah yang berlebih.

Tok, tik, tok, suara gerakan jarum jam di Kelas Bahasa, disertai dengan suara gemuruh anak anak yang sedang berbincang ria. Sang guru telah memberi anak anak kelas itu sebuah tugas yang dapat dikerjakan oleh dua orang atau lebih, tidak heran suara bebas berkeliaran di ruang kelas. Yang, dalam anggapan Shu, adalah sebuah nada sumbang yang sangat menyebalkan.

Shu telah menyelesaikan tugasnya sejak sejam yang lalu. Anggapannya, tugas yang diberikan gurunya adalah sebuah tugas yang dapat dikerjakan dalam waktu yang sangat singkat. Orang orang tolol disekitarnya juga seharusnya demikian, namun mereka benar benar membuang waktunya hanya untuk berbicara.

Anti-sosial, sebuah nama lain Shu yang diberikan oleh guru konselingnya. Guru konselingnya, dalam mata Shu adalah seseorang yang baik, namun terlalu banyak berkomentar tentang orang lain, yang, baginya, bukan sesuatu yang menyenangkan.

Tipikal, sebuah hari hari sekolah yang tipikal bagi seorang pelajar yang memilih untuk melakukan segalanya sendiri. Namun, menit itu, semuanya berubah untuk Shu.

“Sebentar.”

Kata seorang anak meninggalkan kumpulan anak anak dipojok. Lalu berjalan menuju bangku Shu.

Shu berpura pura tidak melihat apapun.

Anak itu memandangi Shu untuk beberapa saat, dan dengan tiba tiba saja berkata

“Hey… dasar sial.”

Sebuah energi marah melintas dalam otak Shu dengan waktu sepersekian detik saja.

“Maaf?”, Shu dengan sangat tersinggung memutar kepalanya untuk melihat anak kurang ajar yang baru saja mengatakan sesuatu yang buruk tanpa alasan.

“Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri? Makhluk egois menyedihkan.”

‘Oke, sekarang ini benar benar diluar batas’, pikirannya berbicara, ‘Aku bahkan tidak tahu nama anak ini, tapi, dia sudah keterlaluan. Datang tanpa alasan hanya untuk menyampaikan sarkasme? Sungguh diluar batas toleransi.’

“Setidaknya penyendiri tidak lebih rendah daripada seorang sarkas.”

“Apa yang---“

Anak itu langsung menghajarnya.
Shu tidak pernah diajari bagaimana cara bertengkar, namun instingnya membuatnya membalas pukulan itu dengan seadanya.

Sang guru dengan cepat memisahkan mereka, dan mengirim mereka kembali ke kamar mereka masing masing untuk merenung.

Sejak saat itu, hubungan mereka berubah menjadi “rekan sparing.”

Setiap sore, mereka menghajar satu sama lain di hutan Akademi. Sebuah rutinitas sampingan bagi mereka berdua. Mereka akan kembali ke asrama dengan seribu satu alasan kenapa mereka penuh lumpur dan luka, dan hal itu terus berulang.

Bulan bulan berlalu setelah itu, musim gugur tiba. Dan kedua anak itu baru saja menyelesaikan “rutinitas” mereka.

Tapi, ada yang berbeda, sore itu.

“Masih berkelahi seperti banci.” Kata anak itu, suara nafasnya terdengar seperti kadar oksigen di sekitar mereka sedang menurun.

“Yah, sama denganmu, pukulanmu masih terasa seperti gigitan semut.”, balas Shu.

Entah kenapa, ada sesuatu yang mendorong mereka untuk tertawa, tertawa terbahak

“Hey,” kata anak itu, menoleh pada Shu, “Sampai kapan kita akan melakukan hal bodoh seperti ini?”

Shu balas menoleh padanya dan berkata dengan masih terbahak, “Segera setelah aku membunuh kebodohanmu.”

Sekali lagi Shu melayangkan tinju padanya, namun tinju itu sangat lemah dan anak itu dengan mudah dapat terhindar.

“Masih terlalu cepat sepuluh tahun untuk mengalahkanku, orang aneh!”, kata anak itu, meneruskan tawanya.

Tidak--- lebih tepatnya, untuk pertama kalinya, mereka tertawa bersama.

“Hey… orang aneh, sebenarnya siapa namamu?”

Tiba tiba anak itu membawa sebuah pertanyaan yang menyenangkan, untuk pertama kalinya.

“Mishuto, Mishuto Dzuragunfuerudo.”, kata Shu sambil tersenyum, “Mishuto terlalu panjang, kalau kau memang mau menggunakan namaku yang pantas, panggil saja, Shu,”

Anak itu tersenyum, lalu berkata, “Aku, Saigoharudo Burizarefu. Sepertinya kita punya kesamaan. Kita sama sama tidak berasal dari Jepang… Dan sungguh kebetulan, aku juga suka menyingkat nama untuk panggilanku. Kalau kau berharap aku memanggilmu Shu, panggil aku Sai.”

Shu mengangguk singkat.

“Jadi, Shu. Apa kau punya kegiatan lain selain kebodohan ini?” tanya Sai, “Sesungguhnya aku sangat kagum, kau bisa melewati setengah tahun di kelas dengan hanya tiga puluh kalimat saja!”

“Waw, kau menghitungnya?”, jawab Shu, tertawa mendengar fakta tentangnya yang tidak pernah dia sadari “ya… musik selalu membantuku. Aku bisa mengatasi, sesuatu yang kau sebut sebagai ‘kesepian’, semua berkat Alice ini.”

“Memang Alice-mu apa?”

Pertanyaan itu membuatnya terkaget, namun ia sadar bahwa ia tidak pernah menunjukkan Alicenya pada teman temannya.

“Alice Simfonik.” Jawab Shu pelan, “Aku tahu Alice ini agak tidak biasa, apa lagi pemiliknya seorang laki laki. Tapi tetap saja, musik musik ciptaan Alice ini membuatku tahan akan tekanan sekolah.”

“Memangnya ada yang salah dengan musik dan laki laki?”, tanya Sai lebih lanjut.

“Ya, biasanya perempuan yang turun dalam bidang ini.”

“Itu tidak benar.” Katanya, dengan tertawa lagi, hanya untuk beberapa detik saja, “Aku suka menyanyi, ketika aku merasa hidup tidak lagi sesuatu yang menyenangkan. Mungkin kalimat ini agak hiperbola, tapi, musik memang membantu hidup seseorang.”

Shu terkikik dan menjawab, “Kau bisa bernyanyi? Kalau begitu coba, aku ingin mendengarnya.

Dan, tanpa komentar, Sai langsung memulai nyanyiannya

Let's sing a song
The song of the world
Hold the wind in your arms
Bask in the light
The stars are twinkling
Shining down upon the streets
Light and Bouncy
Be full of hopes.

Let's sing a song
Let the song of the world
Travel forever. Looking up to the sky,
The sound of people talking
The beating of an insect's wing
Light and Bouncy
Taking my hopes with it.

Light and Bouncy
Tomorrow will definitely
Light and Bouncy
Reach the sky
.”

“Ah…. Sungguh kekanak kanakan!” kata Mist dengan sangat keras, sebagai respon lagu itu.

Namun Sai hanya memberi senyuman sebagai balasan, dan berkata, “Apa yang kau harapkan? Kita memang anak kecil.”

“Ya, ya” jawab Mist, balas tersenyum, “Kau tahu? Mungkin dentingan piano bisa memperindah suaramu. Sejujurnya aku menyukainya.”

“Apakah suaraku sebagus itu?”

“Tidak, bukan suaramu. Tapi aku suka liriknya, sangat nostalgik, sungguh indah.”

Sore itu, seiring dengan pecahnya tawa mereka untuk kesekian kalinya. Hutan akademi telah menjadi saksi sebuah persahabatan baru yang tercipta.







………. itu bertahun tahun yang lalu.

Saat Shu menginjak High School, Sai datang padanya dan membawa kabar yang akan diingatnya selamanya.

Sore itu, awan awan membentuk formasi yang mengingatkan Shu akan awal persahabatannya dengan Sai. Ketika Sai, dengan tiba tiba mengucapkan, “Dengar, Shu, kukira sudah waktunya aku pergi.”

Senyum Shu langsung hilang dari mukanya.

“Apa maksudmu?”

“Akhir akhir ini aku sadar kalau aku telah kehilangan Alice-ku, sepertinya Alice-ku adalah tipe yang menghilang seiring dengan perjalanan umur.”

Shu tidak percaya Sai masih tersenyum setelah mengatakan sesuatu yang sangat buruk itu.

“… jadi…?”

“Ya, aku harus meninggalkan akademi ini. Memang terasa berat… tapi… Hey.”

Raut muka Shu membuat Sai berhenti berkata-kata. Sebelum akhirnya Sai melayangkan sebuah pukulan ringan yang ditujukan pada Shu.

“Hey, hilangnya Alice-ku bukan berarti kau harus kehilangan teman.”

“… itu tidak mengubah fakta bahwa kau akan pergi dari sini.”

“Ya, tapi aku tidak mati kan?” katanya, terbahak, tawa yang persis sama ketika mereka menjadi teman untuk pertama kali. “Segera setelah lulus kau bisa menemuiku, 3 tahun bukanlah waktu yang lama.”

Penjelasan singkat itu membuat Mist termenung, dan, mengembalikan senyum pada wajahnya.

Ketika Sai tersenyum lebih lebar, sebuah tinju lain melayang dari tangan Mist dan, membentur pipinya.

“Sampai kapan kau akan sebodoh ini?”

“Entahlah, mungkin selamanya, tapi sebodoh bodohnya aku. Kau lebih bodoh, kan?”

Tawa mereka kembali terpecah.
Semua saat saat itu kembali.

Setelah mereka puas tertawa, seseorang muncul dari balik pepohonan.

“Tuan Sai, sudah waktunya anda pergi.”

Sai bangkit dari tempat duduknya, memberikan sebuah senyum tanpa kata, dan mendorong kepala Shu.

“Sampai jumpa lagi nanti.”

Lalu ia pergi, menghilang.

Sore itu, Shu mendengar sebuah nyanyian.
Suara Sai yang seakan diputar kembali oleh angin yang sedang bertiup.
Dan pepohonan yang melambai.

Light and Bouncy
Tomorrow will definitely
Light and Bouncy
Reach the sky…




The end….
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Song of the World
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Abstract School RPG :: AS RPG Out Of Topic :: Side Story-
Navigasi: